Senin, 07 September 2020

Hallo, ijin bertanya ya?

Definisi Bertanya, Bagaimana Menurut Anda?

Pernah dengar kalimat ini, “ Malu bertanya, sesat di jalan.”

Bukan hanya pernah  lagi, bahkan sering banget malahan. Itu menandakan bahwa kita (baca: saya) diharuskan bertanya ketika tidak tahu. Pertanyaan yang diajukan tidak melulu mengenai  Jl.  Kebon Jeruk atau Jl. Batu Raden ya, pertanyaan yang semua diakhiri dengan tanda tanya atau nada tanya.

Kendati demikian, tidak semua orang mau memperlakukan pertanyaan dengan sopan. Terutama seseorang yang diberi pertanyaan. Tambah lagi, tentang hal yang yang berkaitan  dengan ilmu.



Aktivitas bertanya juga terkadang diabaikan oleh beberapa orang yang sebenarnya menyimpan segudang permasalahan. Rasa ‘malu bertanya’ itulah yang membuat orang tersebut kesulitan memecahkan permasalahanya. Akhirnya orang itu akan mencari jawaban dengan caranya sendiri yang berujung pada stress.

Stress bukan hanya karena seseorang terkena tekanan batin atau adanya penyakit ya. Sulitnya memahami masalah juga memicu terjadinya stress. Padahal jika kita mau bertanya banyak sekali manfaat yang di dapat,  salah satunya dapat meningkatkan kreativitas.

baca juga : cerita singkat tentang sastra dan tulisan

Definisi Cerita Menurut Saya

Dulu, waktu masih SMA kelas 3 sudah biasa kan siswa itu sibuk mempersiapkan masa depan selanjutnya. Memilih kampus, jurusan, hingga menghubungi kakak tingkat di kampus incaranya. Termasuk juga saya.

Ketika saya mau daftar SNMPTN (jalur undangan masuk perguruan tinggi), saya bener-bener bingung dan enggak tahu sama sekali apa jurusan yang harus saya ambil.

Ketika dilanda kebingungan yang luar biasa, temen saya memberi saran untuk menghubungi kakak tingkat yang dekat dengan dia. FYI, saya anaknya enggak jago sosialisasi.  Engga suka sok kenal. Apalagi ngajak bicara orang baru. So, inilah yang mempersulit saya untuk berkembang.

Saat itu, saya tidak langsung chat kakak tingkat itu melalui whatsapp karena mau gimana lagi ya. Bingung mau tanya gimana, buka percakapannya gimana, terus waktu yang tepat juga jam berapa.

Setelah 3 hari baru saya menghubungi dia, itupun tidak langsung dijawab. Baru satu hari kemudian di jawab, “waalaikumsalam”.

Udah dijawab, saya lanjut ke pertanyaan selanjutnya. Karena berhubung saya kudet banget, jadi pertanyaanya sangat mendasar  yaitu trik apa agar bisa lolos SNMPTN. Maksudnya disini, memilih jurusan yang tepat sesuai dengan prestasi saya sebelumnya.

Pesan ini tidak dijawab serta merta, nunggu keesokan hari baru dibalas singkat, “ya belajar dek

Jawaban itu sebenarnya sudah membuat saya malas bertanya lagi, tapi temen saya bilang kalo hal itu lumrah. Mungkin dia (kakak tingkat) tidak paham dengan pertanyaan itu.

Okelah, saya chat lagi. Saya bertanya mengenai jurusan yang diambil kakak tingkat itu dan seberapa besar prospek kerja untuk jurusan itu.

Tidak seperti sebelumnya yang harus nunggu satu hari kemudian beru dibalas, dia balasnya setelah 10 menit. Jawabanya gini, “maaf ya dek, aku tahu maksud kamu. Aku dulu juga kayak kamu menghubungi kakak tingkat. Tapi kamu juga tahu kan kalau mahasiswa itu sibuk? Sekarang aku sibuk banget.

Membaca sederet pesan itu, bukan pertanyaan saya terjawab, malah ada tambahan  pertanyaan lagi. Apa saya salah ngomong? Apa saya kebanyakan bertanya (kalau opsi ini kayaknya salah deh, kan saya baru tanya sekali) atau karena waktunya tidak sesuai?

Sejak saat itu, saya tidak berani menghubungi kakak tingkat itu lagi atau bahkan siapapun.  Baru setelah saya dinyatakan masuk salah satu kampus di Indonesia, saya menghubungi kakak tingkat yang rumahnya masih satu kecamatan sama saya, dia juga kakak kelas SMA. Saya bertanya mengenai jurusan kami (saya sama kakak tingkat itu), materi apa saja yang sulit di semester awal, hingga saya berniat untuk bertanya mengenai tugas-tugas nantinya.

Lagi-lagi jawaban yang saya terima sama. Tidak menyejukkan hati.

baca juga : apakah aku hanya pemimpi?

Dari pengalaman itu, sebenarnya bukan karena saya mau membahas perlakuan mereka yang mungkin membuat saya phobia untuk bertanya kepada orang yang baru dikenal. Tetapi lebih dari itu, saya hanya ingin mengajak untuk lebih punya perhatian kepada orang lain. Jika ada orang yang bahkan tidak kita kenal bertanya, kenapa tidak kita jawab dengan baik? Jikapun itu yang ditanyakan adalah pengetahuan. Kenapa tidak kita share ilmu yang sudah kita miliki? toh, jika ilmu yang kita miliki dibagikan kepada orang lain, ilmu itu tidak akan habis bukan?

Kebiasaan ini yang masih sulit diterima beberapa orang, malas menjawab pertanyaan. Bahkan sensitif dengan pertanyaan yang berkaitan dengan ilmu, pelajaran sekolah, tugas kampus, ilmu berbisnis, cara berorganisasi dan masih banyak lagi.

Hal ini bukan omong kosong, karena secara langsung saya sering mengalami semasa di SMP dan SMA. Bagi para siswa, senjata ter--ampuh adalah peringkat. Untuk mendapatkan peringkat atas harus belajar dan berusaha unggul dari para kompetitor. Oleh karena itu, mindset kami (baca : para siswa) menganggap kalau ilmu atau informasi baru itu sebuah rahasia besar. Kalau ada orang lain yang tahu sama saja kita siap-siap kalah atau siap-siap belajar lebih giat lagi.

Well, saya tidak bicara untuk semua siswa, ya. Hanya siswa-siswa tertentu, termasuk saya sendiri. Saya akui, semasa SMP sikap children  sepenuhnya saya kuasai. Untuk menjadi siswa yang terbaik, saya sangat egois. Enggak mau tuh gabung sama anak-anak lain, maunya hidup sendiri. Khas deh sama introvert. Enggak di kelas, jam istirahat, extrakulikuler saya sendiri. Rasanya tuh enggak nyaman banget kalau kumpul-kumpul ‘sok deket’ sama anak lain. Yang saya takuti kalau mereka pura-pura deket karena nanti pasti mau minta tolong, ngasih contekan. Duhh, sering banget ini.

Namun, semakin tumbuh dewasa. Sikap itu berubah saat saya memasuki kelas 8. Saya jauh lebih leluasa karena tidak mikir lagi yang namanya ‘saingan’. Dan berbagi ilmu di kelompok kecil itu jauh lebih menyenangkan dari pada hidup seorang diri yang hanya ditemani buku-buku kusam.

Ketika saya sudah mulai berubah dan berusaha terbuka. Malah giliran saya yang mendapatkan perilku dari teman-teman saya yang memiliki notebene ‘siswa unggul’. Meskipun begitu, saya tidak ingin kembali lagi seperti dulu yang ‘pelit ilmu’. Lebih enak belajar bareng-bareng dan meskipun di cuekin oleh siswa unggulan, ya tetep bareng-bareng. Enak deh pokonya, kalau bisa keluar dari zona nyaman.

Lanjut ke topik awal.

Definisi Bertanya Yang Sebenarnya Versi Theroompublic

Dari semua orang yang bersikap kurang nyaman saat proses bertanya, masih banyak juga orang-orang yang sangat baik. Baik banget. Mau membagi resep kesuksesan mereka, seperti Teh Ani Berta dan juga Mas Ardan, juga kakak tingkat saya, Mbak Leonny dan Mas Ubay.

Orang-orang yang memiliki wawasan luas lah yang tidak akan pernah mau menyimpan ilmunya untuk dirinya sendiri, justru berusaha memperkaya ilmu itu dengan membaginya bersama orang lain. Banyak kisah memang yang harus diambil benang merahnya, seperti bahwa ilmu bukan ditimbun melainkan disebar.

Saya juga lebih memahami arti bertanya yang sebenarnya, bahwa bertanya itu karena tidak tahu. Dan dengan bertanya saya lebih tahu.



Untuk itu membiasakan diri dengan bertanya sangatlah penting. Jika masih ragu dengan ‘kekuatan’ bertanya, saya ingatkan lagi tentang kisah Isaac Newton, yang memulai penjelajahan ilmu pengetahuannnya dengan mempertanyakan apa yang di lihatnya: Mengapa buah apel selalu jatuh ke tanah? Mengapa planet bergerak mengitari matahari?, Mengapa satelit tidak jatuh ke permukaan bumi?

So, jangan ragu lagi untuk bertanya ya. ^_^

Continue reading Hallo, ijin bertanya ya?

Senin, 31 Agustus 2020

Cerita Singkat Tentang Sastra dan Tulisan

 AWAL MULA MENGENAL SASTRA DAN TULISAN

Berbicara tentang sastra dan tulisan tidak jauh dari sosok guru yang mengenalkan saya dengan dunia sastra sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tepatnya kelas 5 SD. Pak Bawani, beliau lah guru itu. Guru agama favorit dan kesayangan murid-murid. Saat itu, beliau menyurus saya membuat autobiografi yaitu riwayat hidup saya sejak saya lahir.

Bingung bukan main dengan tugas tersebut, ohh ya. Tugas itu hanya ditujukan kepadaku. “kamu pandai menulis, pasti kamu bisa”. Begitulah Pak Bawani memberikan alasan untuk tugas yang beliau berikan. Saya diberi waktu satu minggu untuk menulis di kertas hvs. Sampai hari kelima, saya belum juga membuat tanda dari pensil di kertas itu. Sebenarnya kebingungan saya bukan karena saya tidak tahu tentang kisah hidup saya, tetapi karena saya tidak tahu harus memulai menulis dengan kata apa.

Dari situ saya belajar, bahwa poin utama suatu tulisan adalah induk kalimat. Saya memulai menulis dengan perkenalan diri. “Hallo, perkenalkan namaku alfia. Aku lahir dari orang tua yang sangat baik. Nama ibuku…..”. Tulisan pertama saya, terkesan sangat natural. Saya melanjutkan tulisan itu dengan mimpi-mimpi anak kecil. Di akhir tulisan, saya juga sempat menulis tentang Pak Bawani.

Ketika saya mengumpulkan autobiografi di waktu istirahat, Pak Bawani membaca dengan serius. Sangat serius. Lalu, beliau mengelus puncak kepala saya, “Bagus, sangat bagus. Bapak kasih tantangan lagi, kamu mau?” setelah melewati perang jantung yang cukup lama, Pak Bawani malah menambah tugas informal lagi. Tapi saat itu saya sangat senang karena beliau memuji tulisan pertamaku. Ahh, saya tahu tulisan saya masih sangat berantakan, tapi beliau benar-benar ingin mengajari saya memeluk sastra dan tulisan dengan caranya sendiri.

Saya pulang sekolah dengan kebingungan berkali-kali lipat. Berbekal kumpulan puisi lama yang diberikan Pak Bawani, aku mulai mengarang. Saat itu puisi pertama yang saya buat berjudul “Terima kasih, Guruku”.

photo by pixabay


Begitulah awal mula saya mengenal dunia menulis. Sejak saat itu juga, saya mulai mengikuti lomba menulis, mulai dari cipta puisi, cipta cerpen, hingga membuat esai. Saya juga pernah ikut lomba pidato dan baca puisi. Dari berbagai lomba dan kegemaranku menulis, saya tidak terlalu banyak minta uang jajan orang tua. Tapi kecintaan saya menulis berhenti saat saya masuk SMA, entah karena apa.

Ketika status saya ganti dari siswa menjadi mahasiswa, saya mulai menulis beberapa cerita. Saya juga belajar dari sini, bahwa ketika pisau tidak pernah diasah, lama-lama akan menjadi tumpul. Setalah bertahun-tahun saya tidak menulis, rasanya sangat sulit untuk memulai membuat kalimat.

Saat semester satu, saya mulai belajar menulis di wattpad, salah satu platform menulis kesayangan anak muda. Tulisan saya benar-benar kacau di cerita awal, itu yang menjadikan saya tidak konsisten. Saya membuat 3 judul sekaligus, bukanya semakin bagus malah ketetaran. Ketika berada di kondisi yang sangat drop, frustasi karena tidak bisa menulis. Saya mulai membuka web blogger, lihat-lihat sebentar. Besoknya lagi lihat-lihat. Lalu lihat-lihat lagi. Hingga saya tergerak untuk menulis. Itupun saya tidak benar-benar menulis hal yang baru. saya hanya memposting cerpen yang saya buat dulu, karena waktu itu saya begitu penasaran rasanya mem-posting tulisan saya.

MAMULAI MENULIS DENGAN MEDIA BLOG

Berlarilah kencang, jika memang itu bermanfaat untuk orang lain. Berjemurlah hingga kering, jika memang itu bermanfaat untuk orang lain

Begitulah petuah ibu saya, ketika saya masih rajin menulis. Bagi ibu saya, sastra adalah bahasa tubuh, sastra adalah sahabat saya dan sastra adalah ruangan yang hanya ada saya. Beberapa kalimat memang diperuntukkan untuk menusuk lawan bicara, tapi saya tidak bisa menanggapi petuah ibu saya sebagai sekutu.  Bukankah kalimat itu tidak salah? Jika memang manusia adalah makhluk social, bukankah berarti kita harus bermanfaat untuk orang lain dengan cara saling membantu?

Cara seseorang untuk membuktikan bahwa dia bermanfaat untuk orang lain berbeda-beda. Begitu pula dengan saya yang masih minim pengetahuan. Melalui blog inilah saya menulis berbagai artikel, juga media saya untuk belajar. Saya ingin tulisan ini setidaknya dapat memotivasi para pembaca atau mungkin bisa menjadi teman di waktu luang.

TUJUAN NGEBLOG BUKAN LAGI SASTRA

photo by pixabay


Saya tidak menulis tentang sastra di blog ini, bukan karena saya melupakan sastra ya. Hanya saja saya ingin menulis mengenai hal yang lebih luas, hal yang bermanfaat untuk membangun kualitas hidup, atau bahasa mudahnya sebagia teman para pembaca untuk mimpi mereka.

Saya akan mencoba membuat tulisan yang bukan hanya untuk bacaan. Tetapi lebih ke konten critical thinking, personal development, atau tentang keorganisasian. Semua artikel yang saya tulis, saya berharap dapat memberikan feedback ke depanya. Menurut saya, banyak orang yang masih sulit menerapkan personal development, padahal hal tersebut sangat penting untuk masa depan. Begitu juga dengan critical thinking yang masih diremehkan oleh segelintir orang, mengira bahwa berpikir kritis hanya dilakukan oleh orang dengan IQ-tinggi. Sejatinya anggapan tersebut salah karena berfikir kritis dapat dimiliki oleh semua orang dengan berbagai tingkatan kecerdasan.

Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa saya tidak lagi belajar sastra. saya akan terus belajar menulis dari berbagai jenis karya, meninggalkan jejak tulisan saya dikemudian hari, karena saya juga ingin menjadi salah satu orang yang akan mengisi sejarah. Menjadi pahlawan dnegan cara saya sendiri.

Continue reading Cerita Singkat Tentang Sastra dan Tulisan

Selasa, 25 Agustus 2020

Adopsi Hutan untuk Melestarikan Hutan Indonesia - Hari Hutan Indonesia

Hutan merupakan salah satu penunjang kehidupan manusia, tidak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan primer maupun sekunder, tetapi hutan juga sebagai paru-paru dunia. Hutan identik dengan pepohonan yang menjulang tinggi, juga hewan-hewan endemik yang ada didalamnya. Menurut ahli silvika, hutan merupakan suatu asosiasi dari tumbuh-tumbuhan yang sebagian besar terdiri atas pohon-pohon atau vegetasi berkayu yang menempati areal luas.

Belajar Melestarikan Hutan Indonesia


Indonesia mempunya luas hutan Negara yang berdasarkan TGHK seluas 140,4 juta hektar ,terdiri atas kawasan hutan tetap seluas 113,8 juta hektar dan kawasan hutan produksi seluas 26,6 juta hektar ( Arif, 2001). Luasnya hutan tersebut jika mengalami kesalahan dalam proses pengolahan sama saja dengan menyiksa generasi mendatang. Untuk mengantisipasi hal itu, alangkah lebih baik jika kita melestarikan hutan dengan mengetahui fungsi dan melihat bagian-bagian dari hutan.

Berbicara tentang hutan, membuat saya ingin berkelana lagi dan berharap pandemi segera berakhir. Berjalan menelusuri hutan dan gunung di bawah terik matahari, yang mampu memberikan aromaterapi tersendiri dalam diri saya. Sebab, nuansa hutan selalu memikat energi positif bagi para pengunjungnya untuk terus menelusuri setiap sisi dan karakteristik hutan.

Saya tinggal di lereng gunung, itu artinya sejak kecil  gunung dan hutan sudah menjadi teman saya. Saya selalu diajarkan untuk melestarikan hutan dengan misi “seribu pohon”. Dulu saya bingung dengan misi ini, apakah saya harus menghitung seribu pohon? Atau saya harus mencari seribu pohon?

Seiring peradaban jaman yang semakin membuat saya tumbuh dewasa, saya tahu arti misi tersebut. Bahwa kita harus melindungi bumi dengan seribu pohon. Misi ini tidak lain diwujudkan dengan penanaman pohon di gunung dekat rumah saya, pohon yang ditanam seperti pohon mahoni, pohon jati, dan pohon waru. Salah satu faktor perusakan hutan adalah banyaknya illegal logging yang menyembabkan kelestarian hutan terganggu. Kegiatan ini dilakukan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab. Jika hal tersebut di abaikain kondisi hutan Indonesia akan semakin kritis. Oleh sebab itu, kami (penduduk desa) melakukan reboisasi bersama dengan bibit yang sudah disiapkan oleh kelompok desa. Begitulah cara kami (penduduk desa) untuk terus melestarikan hutan.

Keanekaragaman Hayati Hutan yang Lebih Dari Sekedar Pohon





Pengelolahan hutan harus dilakukan secara terpadu agar fungsi tanah, air, udara, flora, fauna dan iklim dapat bermanfaat bagi masyarakat. Hutan bukan hanya tempat berkumpulnya ribuan pohon, melainkan masih banyak spesies yang membentuk suatu ekosistem. Keanekaragaman hayati inilah yang harus dipertahankan dan dilindungi, sebab jika bukan kita yang melindungi lalu siapa lagi?

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati hutan yang tinggi, meliputi : 10 % dari total jenis tumbuhan berbunga, 12 % dari total jenis mamalia, 16 % dari total jenis reptilia, dan 17 % dari total jenis burung (Arief, 2001). Hal inilah yang menjadikan Indonesia sebagai Negara istimewa karena memiliki keanekaragaman hayati tinggi, berbeda dari Negara lainya. Keanekaragaman hayati ini bukan saya ketahui dari orang lain, juga bukan karena saya membaca buku. Lebih dari itu, karena saya menyaksikan dan merasakan sendiri. Bahwa hutan gudangnya keanekaragaman. Sebagai salah seorang penjajah alam, saya cukup memahami bagaimana kondisi dan isi hutan. Hutan yang memiliki jutaan keunikan, mulai dari hewan, tumbuhan, bunga yang tumbuh bebas, burung dengan bulu yang berbeda hingga monyet dengan berbagai keunikan. Keanekaragaman hayati tersebut apabila tidak dilestarikan hanya akan menjadi hiasan dinding rumah bagi anak cucu dikemudian waktu.

Hutan menjadi rumah bagi para fauna, entah itu dari spesies mamalia, reptile, ataupun spesies burung. Selain fauna, juga ada flora yang tak kalah pentingnya, sebagai sumber sandang pangan bagi masyarakat, sumber obat-obatan serta sebagai salah satu bahan kosmetik. Hebat bukan, keanekaragaman hayati selain pohon? Sehebat apapun itu, jika kita tidak menjaganya dengan baik hanya akan menjadi cerita di masa depan.

Adopsi Hutan? Apakah Sulit dilakukan?

Eits, jangan salah dengan kata ‘adopsi’. Kebanyakan orang jika mendengar kata adopsi adalah mengangkat anak. Lalu bagaimana dengan adopsi hutan? Apakah artinya mengangkat hutan? Tidak begitu juga, ya. Dalam hal ini adopsi hutan adalah menjaga pohon-pohon untuk tetap lestari. Menurut harihutan.id, adopsi hutan merupakan gerakan gotong royong untuk terus menjaga hutan yang masih ada, mulai dari pohon tegaknya, hewanya, flora eksotisnya, serta keanekaragaman hayati lain di dalamnya.



Pengalaman satu tahun lalu ketika saya berkelana di Taman Nasional Baluran Banyuwangi, Jawa Timur. Untuk menuju gunung baluran dan padang savana yang disebut sebagai ‘Afrika kecil dari timur’, saya harus melewati hutan baluran selama kurang lebih 1 jam. Pada saat itu masih musim penghujan, sehingga sepanjang perjalanan kami ditemani gerimis.

Betapa eksotis dan karismatiknya hutan baluran, barbagai flora dan fauna berteduh di dalamnya. Beberapa kali juga saya sempat melihat rusa, monyet, burung bersayap biru yang saya tidak tahu namanya, juga berbagai jenis pohon dari berbagai spesies. Di hutan tersebut saya bersama teman-teman belajar arti kebersamaan, kami berupaya melestarikan hutan dengan memberikan arahan wisatawan lain untuk tidak membuang sampah sembarangan, tidak mengambil tanaman hutan serta tidak mengganggu para hewan.

Sama halnya dengan misi “seribu pohon” diatas, adopsi hutan juga seperti itu. Satu pohon yang bisa kita tanam hari ini, dapat menghidupi jutaan umat manusia 10 tahun kedepan. Satu ajakan kepada satu orang untuk menjaga hutan, juga dapat melestarikan hutan agar tetap hidup berabad-abad kemudian. Cara tersebut juga dapat melindungi bumi dari pemanasan global. Keren bukan, adopsi pohon itu?

Jika anda setuju, mari bersama melestarikan hutan dengan cara adopsi pohon. Menjaga bumi serta menghidupi umat manusia.

Cara Adopsi Hutan Melalui Donasi

Pemuda selalu tidak jauh dari suatu komunitas dan organisasi, begitulah kami para pemuda membentuk suatu relasi dari berbagai perbedaan. Oleh karena itu, lebih dari 100 komunitas dan organisasi bersatu untuk merayakan hari hutan Indonesia, tepatnya pada tanggal 7 Agustus 2020. Perayaan hari hutan Indonesia diawali dengan gerakan membuat petisi sejak 2017 lalu. Melalui petisi tersebut yang sudah ditandatangani oleh hampir 1,5 juta orang, para pemuda  melakukan aksi nyata untuk melestarikan hutan Indonesia.

Ini adalah jumlah donasi yang sudah terkumpul per tanggal 25 Agustus 2020


Hutan sebagai sumber kehidupan, tanpa hutan juga tidak ada kehidupan. Untuk itu mari kita menjaga hutan dengan cara berdonasi. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan donasi, misal rumah anda berada di pinggiran hutan atau paling tidak dekat dengan hutan, mari kita rawat dan melindungi hutan dengan baik. Sedangkan jika rumah anda berada di perkotaan, mari berdonasi dengan cara klik kitabisa.com/harihutanid. Donasi ini akan disalurkan kepada para komunitas yang melakukan penjagaan hutan di 10 lokasi hutan di Indonesia.

Ajak pula teman, sahabat, saudara, keluarga anda untuk terus melestarikan hutan dengan cara adopsi hutan. Mari bersatu untuk melestarikan hutan Indonesia.



referensi :

Arief, A. (2001). Hutan dan Kehutanan. Yogyakarta : Kanisius

Rasyid, F. (2014). Permasalahan dan dampak kebakaran hutan. Jurnal Lingkar Widyaiswara1(4), 47-59.

https://harihutan.id/

Continue reading Adopsi Hutan untuk Melestarikan Hutan Indonesia - Hari Hutan Indonesia

Selasa, 04 Agustus 2020

“Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina”, inilah definisi Ilmu yang tidak pernah habis

Ilmu adalah harta yang tidak akan pernah habis
 

“Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina”

Sejak aku mulai masuk ke Sekolah Dasar. kata mutiara di atas tertempel di dinding kelas bercat putih yang sudah membaur dengan debu. Dulu aku berfikir, negeri Cina itu seperti apa? Kenapa aku harus mencari ilmu sampai kesana? Apakah jauh dari Indonesia?

Banyak sekali pertanyaan yang terlintas dan juga jawaban yang aku karang sendiri,  Seperti mungkin negeri Cina punya standar pendidikan yang tinggi? Atau mungkin negeri Cina adalah negeri terkaya? Kali aku baru menemukan jawaban yang sebenarnya dari kata mutiara itu. Bahwa jangan berhenti menuntut ilmu karena ilmu adalah harta yang tidakk akan pernah habis dan tidak akan bisa di curi.

Aku lahir sebagai generasi milenial atau bisa di sebut generasi  Z, dengan sikap sopan santun yang kurang (aku sering mendengar dari pengakuan orang tua). Aku tidak akan menyangkal, bahwa tata krama sudah mulai luntur seiring dengan perubahan generasi karena aku merasakanya. Sebagai salah satu anggota keluarga yang menempuh pendidikan tertinggi di keluargaku, terkadang aku bersikap sembrono kepada orang yang lebih tua dariku. Aku sering kali ‘menggurui’ mereka karena menurutku aku lebih berpengetahuan. Hal yang aku kira benar, ternyata salah di mata orang-orang disekitarku. Aku dianggap tidak sopan, sok tahu atau bahkan menentang para orang tua.

Sederhana saja, tujuanku mencari ilmu adalah untuk membagikan ilmu itu kembali. Karena aku sudah salah membagi ilmu ke orang yang lebih tua dariku ’dengan caraku’, maka aku banting stir. Kegemaranku dalam dunia biologi terutama biotani, membuatku terpikat untuk terus bereksperimen. Aku mencoba ilmu hibridisasi, lebih tepatnya perkawinan silang tanaman.  Adanya tanaman buah naga di samping rumah, aku jadikan sasaran untuk eksperimen yaitu menyilangkan buah naga merah berasa manis dengan buah naga putih berbiji sedikit. Hasilnya sangat memuaskan, dari persilangan tersebut aku menghasilkan buah naga manis berbiji sedikit, sesuai dengan perhitungan.

Selain itu, aku juga mencoba teknik stek  bunga bougenvile. Di dalam satu pot bunga bougenvile merah, aku gabung dengan 5 bunga bougenvile berwarna kuning, ungu, putih, merah kecoklatan dan pink. setelah teknik stek cukup sukses, aku kembali bereksperimen menggunakan bunga mawar 1 pot dengan tiga warna yaitu, merah, putih dan kuning. Hasilnya juga memuaskan.

Kegiatanku tadi ternyata mengundang perhatian di lingkunganku. Banyak ibu-ibu yang berdatangan untuk belajar cara persilangan dan memperbanyak tanaman atau membuat warna-warni bunga di satu tanaman. Ternyata cara seperti ini cukup efektive untuk membagi ilmu yang sudah aku dapatkan semasa SMP, bukan dengan menggurui tetapi lebih mencontohkan.

Bekal ilmu memang tidak ada habisnya jika harus diceritakan semua, tapi yang perlu di perhatikan adalah cara terbaik untuk membagi ilmu itu kepada orang lain. Ada beberapa point yang harus diperhatikan dalam membagi ilmu.

Point penting yang pertama adalah ketahui siapa yang sedang kita hadapi. Apabila orang itu lebih tua atau memiliki jabatan yang lebih tinggi dari kita, gunakan cara seperti yang aku lakukan. Dengan artian tidak perlu menggurui terlalu berlebihan.

Point kedua yang tidak boleh ketinggalan, usahakan ilmu yang akan di bagikan tidak melanggar hukum, agama maupun tatatan.

Point ketiga yang merupakan terakhir, ilmu yang akan di bagikan harus benar-benar kamu kuasai. Sehingga nantinya tidak akan ada kesalah pahaman.

Continue reading “Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina”, inilah definisi Ilmu yang tidak pernah habis

Kamis, 23 Juli 2020

Tetap belajar dengan trik 'Mengisi Gelas Kosong'

Apa definisi sukses menurut anda?

Bagaimana cara agar anda bisa sukses?

Tidak salah untuk menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban yang berbeda-beda. Pada dasarnya sukses diawali dari pembelajaran, entah belajar dalam bidang yang memang sedang digeluti atau bidang yang bukan passion nya. Belajar pula memilki definisi yang berbeda, tidak semua orang memilki cara belajar yang sama. Namun hal yang perlu diperhatikan saat belajar adalah ‘mengisi gelas kosong’, artinya ketika anda sedang belajar usahakan kalau anda memerlukan ilmu itu, tidak bersikap sombong karena sudah pernah belajar. Meskipun anda pernah mempelajari suatu hal, tetap saja anggap bahwa anda baru mengenal ilmu itu. Hal ini akan baik pada tingkat ingatan anda, dimana anda akan semakin terasah dan terus mengingat ilmu yang sudah di pelajari.

foto by theroompublic

Dalam belajar penting sekali menerapkan ‘mengisi gelas kosong’ untuk memperoleh ilmu dengan baik. Ada juga kaitan mengisi gelas kosong dengan rasa bersyukur. Sebenarnya, banyak dari mereka yang terkadang kurang mensyukuri apa yang sudah dimiliki dan tak bisa dipungkiri bahwa orang seperti itu juga sering  dikatakan  ‘manusia tidak tau bersyukur!’. Tidak masalah kok, jika anda seperti itu, kurang bisa mensyukuri apa yang sudah anda dapat dalam artian positif ya tentunya. Rasa yang tidak bersyukur membuat kita untuk terus bergerak dan tak mau kalah, dalam hal ini saya kaitkan dengan belajar. Kalau anda tidak bersyukur dengan kecerdasan yang anda miliki sekarang, berarti anda harus membuka wawasan dengan cara belajar. Belajar tidak selalu membaca buku, tapi juga bisa belajar dari orang-orang sekitar, pengalaman, dan masa lalu. Intinya anda harus terus belajar dengan mengandalkan teori ‘mengisi gelas kosong’.

baca juga : Apakah kamu takut gagal? Lalu, bagaimana kegagalan versi kamu?

Di era yang serba digital ini, tidak sulit untuk menjadi pembelajar. Anda bisa belajar dari orang-oarang di dunia maya, entah itu usianya lebih muda atau tua. Sejatinya usia tidak bisa menjadi pembatas untuk belajar dan berusaha. Jika saat usia muda anda hanya menjadi remaja yang tidak prosuktif, tidak seharusnya di usia tua juga tidak prosuktif, ya.

“Aku sudah tua, sulit sekali untuk belajar.”

Seringkali keluhan seperti itu terekam oleh indera pendengaran saya, bahkan orang tua saya sendiri juga seperti itu. Tapi disini saya memiliki peran bukan hanya menjadi pendengar tetapi juga penggerak. Saya berusaha membantu orang tua untuk lebih produktif dan belajar tentang ilmu yang belum ada di usia remaja mereka. Tidak terlambat, kok. Anda hanya perlu berlatih berkali-kali, coba belajar dengan mengulang 3 kali, jika masih sulit mengingat. Belajar lagi dengan mengulang sepuluh kali.

baca juga : Larangan dan Title orang tua

Usia tua ataupun usia muda tidak ada yang membedakan dalam ranah pengetahuan. Kita semua sama, hidup untuk belajar dan belajar untuk hidup. Terpenting jangan pernah menyepelekan ilmu yang akan anda dapat, meskipun anda pernah mempelajarinya.

Tetap semangat untuk mengisi gelas kosong, agar air tetap ada dan agar air tidak tumpah ya. Gamsahamnida^_^

 


Continue reading Tetap belajar dengan trik 'Mengisi Gelas Kosong'

Rabu, 22 Juli 2020

Apakah kamu takut gagal? Lalu, bagaimana kegagalan versi kamu?

Hallo, Apa kabar?

Udah lama nih  aku enggak coret-coret di blog ini. Apakah blog ini sudah berdebu? Atau bahkan berkarat? Haduhh, semoga tidak ya. Hehehe

Beberapa hari yang lalu, aku disibukkan oleh ‘sesuatu’ yang tidak bisa aku tuliskan disni. Beberapa hari berkencimpung dengan ‘sesuatu’ yang aku harap bisa terwujud dan mungkin bermanfaat untuk orang lain, tetapi hasil yang aku dapatkan tidak sesuai dengan ekspetasiku. Dalam artian aku GAGAL.

Bagiku kegagalan adalah suntikan energy untuk bangkit sepuluh kali lipat kedepanya. Kembali menantang kegagalan itu dan mencoba menang.

baca juga : siapakah aku sebenarnya? Aku adalah kamu atau aku adalah mereka?

Berbicara tentang kegagalan, mendadak aku teringat Thomas Alva Edison. Tahukan? Exactly, Edison adalah ilmuwan dengan penemuan-penemuan besar salah satunya lampu pijar. Iya, lampu yang saat ini menerangi rumah mu dimalam hari, bukan ‘dia’ yang kamu anggap sebagai cahaya dalam hidupmu saat kamu berada digelapan. Eits, apa sihh. Kok out of topic. Heheheh

Edison dikenal dengan anak idiot oleh beberapa orang, bahkan gurunya pun juga mengeluarkan dia dari sekolah. Dengan kegemaranya dalam hal praktikum, Edison hampir membunuh temanya karena percobaan praktikum. Selain itu, Edison sudah gagal 9.998 kali dalam menciptakan lampu pijar. Bagaimana dengan percobaan yang lain? Tentu saja Edison juga sering mengalami kegagalan, tapi hebatnya Edison tidak pernah berhenti untuk terus mencoba lagi dan lagi. Hebat, bukan?

Tapi karena kita sedang tidak membahas kisah hidup Edison, jadi langsung ke Topik ya, yaitu kegagalan.

Dari kamu sendiri, apa arti kegagalan yang sebenarnya?

Apakah putus termasuk kegagalan?

Apakah tidak memiliki pekerjaan termasuk kegagalan?

Apakah ditolak Universitas termasuk kegagalan?


Sejatinya definisi kegagalan itu berbeda-beda setiap orang, disesuaikan dengan cara berfikirnya. Pikiran yang positif akan menganggap kegagalan tersebut sebagai tantangan, sedangkan pikiran yang negative menganggap kegagalan adalah kesialan.

Proses berfikir yang baik, karena adanya kebiasaan yang baik pula. Untuk itu pupuk pemikiran yang baik, agar kamu semakin siap dengan kejadian-kejadian di masa mendatang.

baca juga : Larangan dan Title orang tua

Kadang kala kegagalan datang dengan permisi terlebih dahulu, dalam artian kita tahu bahwa benih-benih kegagalan sudah mulai tumbuh dalam perjalanan untuk mencapai tujuan. Untuk itu kamu tidak perlu mencari pestisida atau bom untuk memusnahkan benih itu. Cukup baca situasi, bagaimana caranya agar kamu bisa mengalahkan kegagalan itu. Mungkin akan sedikit sulit dipahami, ya? Berikut aku berikan ilustrasi:

Andi siswa dari SMA yang ada di pelosok desa, tapi mimpinya untuk menjadi seorang hakim sudah dipupuk sejak kecil. Selain itu, dia juga sangat mendambakan universitas terbaik di Indonesia. Namun demiakian, dia tidak punya cukup prestasi untuk kemungkinan bahwa dia lolos. Bagi orang lain, ketika mendengar mimpi itu mereka akan menganggap bahwa Andi akan gagal. Ketidakmungkinan bersaing dengan siswa dari kota yang notabennya berprestasi, juga bisa masuk universitas terbaik membuat Andi harus mencari jalan keluar.

Dari ilustrasi singkat diatas, sudahkah mendapat jawaban apa yang akan dilakukan Andi?

Andi cukup tahu jika dia akan gagal karena prestasinya yang tidak bisa disamakan dengan anak kota. Disini kita perlu membaca situasi, bahwa mimpi Andi adalah menjadi seorang hakim, dengan kata lain dia juga harus kuliah di jurusan Hukum. Pilihan pertama Andi harus tetap mendaftar di universitas dengan juirusan impianya. Sedangkan pilihan kedua, Andi harus mencari universitas lain dengan jurusan sesuai impian. Andi harus tetap menjadi seorang hakim sesuai dengan mimpinya, meskipun dia tidak bisa berada di universitas terbaik, bukankah tidak begitu buruk menjadi ikan yang besar di kolam yang kecil?

Begitulah kegagalan memupuk kita untuk berpikir positif, agar ada jalan keluar yang masih bisa dilalui. Sama halnya dengan Andi, bagaimana jika Andi berpikir negative?

Mungkin Andi sudah mengalami down syndrome, dimana dia kesulitan untuk bangkit dari kegagalan karena tidak mencoba untuk menenangkan pikiranya terlebih dahulu.

Apakah kamu takut gagal?

Apakah kamu takut merugi dalam kegagalan itu?

baca juga : Apakah aku hanya pemimpi?

Jika masih ada pikiran seperti itu, tolong segera singkirkan. Kegagalan berawal dari ketidak-percayaan terhadap individu masing-masing. Jika kamu takut melangkah karena terbayang-bayang ‘gagal’, sudah bisa dipastikan kamu akan gagal sebelum melangkah. Berbeda dengan pikiran ‘yang penting aku maju dulu, gagal urusan belakangan’ itu akan membentuk mental yang kuat dalam dirimu. Secara tidak langsung, kamu sudah membangun benteng untukmu melangkah.

So, masihkah ragu untuk mencoba? Masih takut akan kegagagalan?

Mari kita bersama mewujudkan ketidakmungkinan menjadi mungkin, keep spirit^_^

 


Continue reading Apakah kamu takut gagal? Lalu, bagaimana kegagalan versi kamu?

Senin, 06 Juli 2020

Larangan dan Title orang tua

Larangan dan Title orang tua - Ini bukan sekali, dua kali atau tiga kali. Pertanyaan yang sama sering kali aku ajukan. Tapi jawaban yang kudengar tetap sama.

Tidak!

Sebenarnya pertanyaanku hanya sepele.

Boleh enggk aku sambil kerja?

Dari dulu aku enggak bisa diam orangnya. Bagiku waktu adalah segala kunci dari pintu di masa depanku kelak. Melihat aku libur kuliah, dirumah cuma makan, megang hp, rebahan, ngetik engga jelas di keyboard laptop (salah satu tulisan ini haha) membuat beban sendiri dalam diriku. Dimana aku engga bisa mandiri finansial dan masih membutuhkan uluran tangan orang tua. Ahh, bener-bener ngebuat dadaku sesak.  Aku ingin mandiri, punya uang sendiri, bebas.

Pernah, aku sudah menyusun rencana matang untuk tetap tinggal di kota tempatku belajar selama liburan semester. Tapi ketika dering telfon berbunyi, lalu suara diseberang menyuruhku untuk pulang. Segeralah aku pulang, meninggalkan semua schedule yang sudah aku susun. Sedih sih, tapi aku tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah menungguku selama 6 bulan.


Apakah kalian juga sama?

Yahh, mungkin pemikirin orang tua satu dengan orang tua lainya berbeda. Orang tuaku cenderung membatasi semua aktivitasku, memantau gerak geriku, aku seperti tawanan perang. Tapi, eits! Jangan salah tangkap ya. Orang tuaku punya maksud sendiri untuk itu, meskipun maknanya tersirat tapi aku bisa memahaminya. Memang aku bukan psikolog yang tahu segala pesan dari mimik wajah, gesture tubuh ataupun penekanan kata yang diucapkan. Namun entah dari mana, aku cukup tahu suasana hati seseorang disekelingku. Kalian juga sama kan?

Pernah denger nggak ucapan ini? ”Masa lalu harus ditimbun dalam-dalam agar tidak ada sakit hati yang tersisa”

Menurutku pribadi semua itu tidak tepat. Yahh, memang ada beberapa kejadian yang harus diabaikan, tapi tidak harus dikubur kok. Masa lalu dijadikan pembelajar untuk masa depan. Sama dengan larangan tadi. Dari dulu, semakin aku dilarang semakin penasaran pula dengan hal yang akan terjadi. Akhirnya, aku tahu dan menyesal tentunya. Berkali-kali larangan itu aku buat candaan dan sekarang alam seakan mengutuk-ku. Eits, apa kamu percaya dengan kutukan? Aku sih tidak.

baca juga : siapakah aku sebenarnya? Aku adalah kamu atau aku adalah mereka?

Beberapa kejadian di masa lalu memberiku tamparan keras, bahwa orang tua adalah guru paling benar dan paling bijaksana. Sepandai apapun anak-anaknya kelak, seberapa panjangnya title anak-anaknya kelak. Tetaplah orang tua yang paling pandai dan memiliki title yang paling panjang.

Orang tuaku bukan sarjana, mereka hanya lulusan SMA. Bagaimana bisa dibilang memilki title yang paling panjang?

Itu juga pertanyaan dan jawabanku dulu. Sebelum aku mengalami masa-masa yang berbeda.

Sadar tidak? Title itu tidak hanya didapatkan pasca kamu wisuda. Coba deh lihat dunia yang lebih nyata. Dimana banyak pejabat kaya raya yang ketika mudanya sibuk bekerja, lalu sekarang tinggal menyebutkan title yang dia inginkan. Keluar dah ijazah tanpa makan bangku kuliah. Mudah bukan?

baca juga : Apakah aku hanya pemimpi?

Lalu bagaimana dengan orang tua yang hanya lulusan SMA? Mereka tidak perlu title dalam bentuk tulisan dan ijazah dalam bentuk kertas. Title yang panjang itu dari kamu sendiri. Dimana kamu bisa mempercayai ucapan orang tuamu, larangan orang tuamu atapun titah orang tuamu. Mereka akan mendapatkan title itu dengan sendirinya.

Dan akupun sudah melakukanya saat ini. Demi memberikan title paling panjang diantara orang tua lainya, aku akan berusaha menuruti larangan itu.  Berusaha bilang “ Baiklah” dari pada “Bodo amat!”

Bagaimana dengan kalian?

 

baca juga : berbicara tentang tahta dan kemegahan


Continue reading Larangan dan Title orang tua