Minggu, 16 Oktober 2022

KKN DESA ROWOINDAH

 KKN DI DESA YANG JARAKNYA 1 JAM DARI JANTUNG KOTA JEMBER

1 september lalu saya memulai magang atau sebut saja KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Desa Rowoindah Kabupaten Jember. Magang selama satu bulan dengan fokus utama kami membuat 5 program diantaranya pengambilan data, pelatihan kader posyandu, penyuluhan ibu hamil, penyuluhan balita, demo masak, dan rumah binaan.

Saya kira kami hanya menjalankan magang untuk menggugurkan tanggung jawab sebagai mahasiswa, namun saya menyikapi 1 bulan tersebut sebagai kegiatan mempelajari arti kehidupan.

Sangat berlebihan, bukan?

Tidak, karena ketika saya baru datang di desa tersebut rasanya biasa saja. Seperti halnya desa lain yang warga desanya ramah dan welcome terhadap pendatang baru.

Akan tetapi, setelah pengambilan data yang dilakukan selama 2 hari saya terus terusan merenung. Apa yang saya lihat di awal ternya tidak sesuai dengan keadaan warga desa.

Semakin kami menelusuri Desa Rowoindah untuk mencari data kami semakin belajar banyak hal, terutama rasa bersyukur.

Desa Rowoindah yang jaraknya 1 jam dari jantung kota Jember bisa dikatakan juga memprihatinkan. Beberapa warga desa menikmati kehidupan yang sederhana bahkan kurang. bekerja sebagai buruh tani atau buruh pabrik dengan gaji pas-pasan. Hingga kami menemukan banyak sekali permasalahan stunting, BBLR dan anemia pada Ibu Hamil.

Waktu 1 bulan sangat cepat untuk mengatasi permasalah tersebut. Bahkan program yang kami usung sejak awal tidak relevan dengan permasalahan utama di Desa tersebut yaitu permasalahan ekonomi.

Dari penuturan perangkat desa, sedikit sekali warga sekitar yang memiliki pekerjaan tetap. Mereka hanya menggantungkan hidupnya dari hasil buruh yang tidak seberapa. Oleh karena itu, untuk mencukupi kebutuhan makan sendiri sangat kurang.

Berdasarkan wawancara mendalam, warga desa mengaku untuk menu yang diolah sehari-hari jarang sekali yang menggunakan ikan atau daging, daun kelor lah yang sering warga desa konsumsi karena sayur tersebut tumbuh subur di depan rumah warga.

Sedangkan, untuk pemuda desa yang melanjutkan ke perguruan tinggi juga bisa dihitung menggunakan jari.

Setelah lulus dari SMA/SMK pemuda desa melanjutkan kerja di kota lain tetapi lebih banyak merantau ke Bali dengan alasan pekerjaan mudah di cari dengan gaji yang lebih tinggi di banding dari kota lainya.

Pemuda desa yang seharusnya menjadi pioneer bagi desanya untuk merubah kultur desa maupun meningkatkan produktifitas warga desanya memilih untuk memotong pendidikanya.

Sangat disayangkan memang. Tapi permasalahan ini saya yakin sudah banyak terjadi di desa lainya atau bahkan belahan bumi lainya.

Continue reading KKN DESA ROWOINDAH

Sabtu, 08 Oktober 2022

TRAUMA : PENYEMBUHAN ALAMI

Simak Penyembuhan Trauma Secara Alami

From an existential perspective, emotional regulation reinforces safety, which moderates the anxiety caused by the trauma. Interventions that reduce death anxiety, existential anxiety, and interpersonal and intrapersonal isolation are powerful ways to enhance the client’s ability to move toward recovery and survivorhood.”( Zyromski et al, 2018)

Sebenarnya untuk menghilangkan trauma bukan dari latar pendidikan, kebiasaan, obat atau orang lain. Kunci menyembuhkan trauma adalah dirimu sendiri. Seberapa kuat kamu bertahan dan melawan rasa trauma mu itulah penentu keberhasilan dari penyembuhan trauma.

Jika dilihat dari bidang keilmuan ku sebagai anak kesehatan,  terasa sulit mendiagnosa penyebab trauma atau bahkan memberikan resep untuk penyembuhan trauma. Karena pada dasarnya trauma itu lahir dari pikiran kita sendiri, untuk itu yang dapat menyembuhkan trauma ya pikiran orang itu sendiri.

Selain dari pikiran, rasa trauma dapat berangsur sembuh ketika kita mendekatkan diri ke Tuhan. Sebenarnya bukan rahasia umum apabila proses spiritual mempengaruhi segala permasalahan manusia.

Tapi dari kaca mata penglihatan ku, meskipun manusia sadar bahwa harus mendekatkan diri ke Tuhan tetap saja adakalanya mereka ingkar dengan pengetahuan itu.

Tetap merasa sendiri dan diselimuti ketakutan. Well, harus banget dipaksa untuk mendekatkan diri ke Tuhan bisa melalui ibadah atau hal lainya.

Support system juga sangat mempengaruhi proses penyembuhan trauma. Sebagai makhluk sosial sendiri kita semua sadar bahwa tetap membutuhkan manusia lainya. Begitu pula saat merasa trauma, sangat dibutuhkan sekali sosok yang mendukung kita.

Support system bisa dari keluarga, teman atau pasangan yang terpenting mereka tahu permasalahan yang sedang dihadapi dan selalu mendukung mu dalam keadaan apapun.

Begitulah cara menyembuhkan trauma dari kejadian yang menyeramkan. Aku menyebutnya seram karena kejadian itu bisa melekat, memberikan dampak negative bagi keberlangsungan hidupmu.

 

 

Continue reading TRAUMA : PENYEMBUHAN ALAMI

Kamis, 29 September 2022

TRAUMA : SINI AKU KASIH TAU


 “Jika aku menyerah, apakah artinya aku pecundang?”

Aku menoleh kearah suara itu, terdengar serak dan putus asa. Pada waktu itu aku duduk di pinggir lapangan, tepatnya di bawah pohon sambil menunggu latihan PBB di mulai lagi. Iya, waktu itu aku sedang mengikuti PKKMB a.k.a Ospek di kampusku, tahun 2019 silam. Tapi ingatan itu masih terlihat jelas serta kalimat yang selama ini sering mendengung di-entah bagian mana kepalaku.

Beberapa menit kami hanyut dalam obrolan mendalam, tentunya tanpa ada yang saling memperkanalkan diri. Aku juga bercerita, tentang diriku yang tidak diterima di kampus bahkan jurusan impian ku. Sedangkan dia, ternyata beban hidupnya jauh lebih berat dari pada aku. 3 kali gagal dalam tes Akmil, dan saat ini terpaksa melanjutkan kuliah dulu sambil menunggu test selanjutnya. Dia yang seharusnya angkatan 2017, saat itu masih menjadi mahasiswa angkatan 2019.

Tapi, untuk mengikuti kehendak keluarganya agar menyandang gelar ’anak berbakti’ membuatnya terlihat tertekan.

“Aku trauma untuk melanjutkan mimpiku bahkan mimpi orang tuaku.”

Kalimat sebagai penutup untuk obrolan siang itu, hingga aku tidak tau siapa dan dimana dia sekarang.


Trauma merupakan keadaan gangguan psikologis karena mengalami tekanan terus menerus baik dari lingkungan sekitarnya maupun kejadian yang pernah dialami.

Menurut American Psychiatric Association,(2000, p. 467) ada beberapa definisi dari trauma diantaranya :

  1. Trauma didefinisikan sebagai nyeri yang dialami oleh seseorang yang mempengaruhi psikologis dan fisik sehingga membawa dampak kepada kehidupan seperti menurunnya tingkat produktivitas dan aktivitas keseharian.
  2. Trauma terjadi karena peristiwa pahit apakah fisik atau mental yang menyebabkan kerusakan langsung ke tubuh atau kejutan pada pikiran
  3. Trauma terjadi karena ada kekhawatiran yang ekstrim atau kekhawatiran yang trauma oleh efek fisik dan psikologis yang dapat menyebabkan gangguan emosi yang dipicu oleh peristiwa pahit yang akut
  4. Trauma adalah peningkatan gejala tekanan (stress) yang menyebabkan gangguan emosi kepada anak atau siswa sekolah akan menyebabkan perubahan perilaku, perubahan emosi dan pemikiran. 
  5. Trauma juga dikatakan sebagai cedera tubuh yang disebabkan oleh energi fisik dari luar seperti tembakan, kebakaran, kecelakaan, tikaman senjata tajam, luka akibat berkelahi, diperkosa, kelalaian teknologi dan sebagaianya.  

Menulis artikel tentang trauma sebenarnya bukan iseng belaka. Selain karena cerita diatas, beberapa waktu lalu aku sendiri mengalami hal ini. Rasa takut mendominasi diriku untuk melakukan banyak hal hingga ngobrol saja aku tidak memiliki fokus seperti biasanya.

Well, trauma tetap bisa di sembuhkan asalkan kita mau dan siap. Bagaimana cara menyembuhkan trauma, baca di artikel ini yaa.

Continue reading TRAUMA : SINI AKU KASIH TAU

Minggu, 11 September 2022

TPA Pakusari - Tempat Mencari Rasa Syukur

Kali pertama aku mengunjungi tempat pembuangan sampah akhir (TPA) di Kabupaten Jember, tepatnya di Kecamatan Pakusari. Pusat pembuangan sampah di kabupaten jember. Dari jarak jauh tentu saja sudah tercium bau menyengat sampah, aku kira tempat itu bakal sangat kotor dan tidak terurus. Ternyata setelah melewati pintu masuk, di halaman utama sangat bersih, ada beberapa tanaman bunga maupun pohon juga tak lupa berbagai hiasan yang terbuat dari botol bekas.

Sebelum masuk ke lokasi gunungan sampah, kami--aku dan kedua temenku meminta ijin kepada pengelola TPA. Cukup lama berdiskusi akhirnya kami diberi izin untuk masuk sekaligus mengambil dokumentasi. Aku sangat exited menelusuri TPA itu, mungkin memang sedikit terganggu dengan bau sampah yang menyengat. Tapi saat itu masih dalam keadaan pandemi. Sehingga tidak terlalu banyak orang serta kami mematuhi protokol kesehatan, salah satunya menggunakan masker berlapis. Yaps, bau sampah tidak terlalu menusuk hidungku jadi aman sih.

Doc. Pribadi

Jarak dari halaman utama menuju gunungan sampah sekitar 100 meter atau- ah aku tidak terlalu pandai menghitung jarak. Lebih suka menggunakan ukuran waktu, yaps sekitar 3 menit jalan kaki kami sampai di lokasi.

Astaga! Gila sih, aku tercengang dengan gunungan sampah yang sangat luas. Tapi yang lebih membuat ku tercengan adalah gubuk – gubuk yang berdiri tepat di atas gunungan sampah. Gubuk tersebut terbuat dari kardus bekas, atau mungkin beberapa kain bekas sebagai penutupnya. Disitulah tempat pemulung beristirahat setelah mengumpulkan puing puing kardus, botol atau barang bekas lainya yang dapat di jual kepada tengkulak.

Kami terus menelusuri TPA, menginjak sampah botol, menghindari sampah rumah tangga yang sudah membusuk hingga kami sampai di puncak gunung sampah. Sebut saja seperti itu. Bagian gundukan tertinggi sehingga bisa melihat luasnya TPA Pakusari dari titik ini. Sangat luas, langit bertabur biru dan panas yang tak tertolong. Sangat memuaskan berada disana saat itu. Bukan lagi bahasa “survey projek” tapi aku belajar tentang kehidupan.

Doc. Pribadi

Payah sekali dalam kondisiku yang sehat dan cukup masih banyak mengeluh. Tak pernah bisa bersukur dan terus mau yang lebih. Sedangkan, dari sini saya melihat pemulung sedang memilah sampah bersemangat sembari bergurau. Terlihat jelas harapan mereka bertumpu di puing puing sampah yang nantinya dapat di tukar dengan lembaran uang bergambar pahlawan.

Sedih dan semangat—seperti itu perasaan ku. Sedih melihat pemulung yang berusia lanjut masih bersemangat banting tulang di tempat kotor seperti ini. Sekaligus bersemangat karena memberiku motivasi untuk terus bekerja keras.

Anyway, aku menulis ini karena membaca caption di postingan ig ku sendiri. Yang aku baca dari caption itu tulisan sangat bernyawa, tapi yang aku tulis sekarang hanya cerita. Aku tidak tau kalian bisa memahami perasaan ku saat menulis ini atau tidak, karena memang sudah lama sekali. Sulit menulis hanya dengan ingatan saja. Tapi semoga kalian tetap menyukai tulisan ku yang random ini ya.

 

Continue reading TPA Pakusari - Tempat Mencari Rasa Syukur

Hallo, I am Back

 Halo halloo

Setelah vakum berapa tahun, aku kembali lagi dengan semangat baru. Cmiiw, semoga benar ya dengan semangat baru dan konten tulisan baru. Beberapa tulisan yang aku buat sesuai dengan yang aku inginkan. Semua tulisan itu lahir dari perasaaan dan otak ku. Yaa, aku suka menulis bebas, apa yang aku pikirkan itulah nanti yang aku tuliskan.

Tulisan di blog pure karya yang aku buat. Bukan lagi soal cerpen atau puisi karena sudah banyak hal yang aku pikirkan dan harus dituangkan sebelum isi kepala ku meledak.

Aku berharap kalian have fun ya bacanya dan semoga tidak salah persepsi dengan cara berfikirku. Terimakasih sudah membaca tulisan di blog ini. Semoga bermanfaat buat kalian ya.

Continue reading Hallo, I am Back

Minggu, 04 April 2021

New Year and New Post

2021.

Tahun lalu banyak sekali yang berharap, “Semoga tahun depan pandemi segera berakhir.”

Dan ternyata hingga saat ini pandemi belum berakhir, sekolah masih secara daring, penerapan social distancing juga masih diberlakukan bahkan dari kabar terbaru mudik juga dilarang. Meskipun demikian, vaksinasi di Indonesia sudah berjalan sejak bulan Januari lalu. Hanya saja memang butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan pemberian vaksin ini.

Well, Apa Kabar? Bagaimanai tahun 2021 setalah hampir 4 bulan? Sudah siapkah menjalani Ramadhan?

Semoga selalu sehat dan baik-baik saja ya. Banyak banget sebenarnya pertanyaan yang ingin saya ajukan, tapi lain kali saja.

1 Januari lalu, tidak ada yang bisa saya ceritakan. Di awal tahun yang seharunya penuh perayaan, tahun ini memang beda banget. Segelintir orang yang masih merayakan tahun baru, misal saja tetangga depan rumah yang mengundang teman-temannya untuk sekedar mengadakan pesta kecil. Tidak ada lagi kembang api bersahutan di setiap ujung perumahan atau mungkin di tanah lapang. Malam tahun baru di tahun ini sangat senyap dan sepi.

Sedangkan saya, saya juga ingin merayakan tahun baru tapi mau bagaimana lagi. Saya juga ingin ikut berpartisipasi atas kebijakan pemerintah untuk tetap tidak menciptakan kerumunan, jadilah saya menonton drakor hingga menjelang subuh.

Tahun baru. Cerita Baru. Harapan Lama.

Benar sekali, hal yang paling berubah hanya kalender dengan angka “2021”, tidak ada lagi yang berubah.

Cerita baru? Ingin sih membuat cerita baru, tapi semua terlalu berkesinambungan hingga ceita lama juga tidak bisa ditinggalkan.

Harapan baru? Belum, belum ada harapan baru karena harapan lama masih belum terwujud.

Apapun itu, selamat tahun baru. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Semoga segala harapan bisa terwujud dan berbagai kisah baru juga tercipta.

 

 

 

Continue reading New Year and New Post

Kamis, 01 Oktober 2020

ON LIBRARY

 


Perpustakaan selalu menjadi tempat terbaik bagi saya sejak kecil. Tempat paling sepi, sunyi, nyaman dan menenangkan. Ya, karena saya tidak suka keramaian.

Sejak SD saya pikir bahwa saya tidak punya peristiwa yang menggemaskan ketika berada di perpustakaan, ya hanya gitu-gitu aja. Datang ke perpus ngambil buku lalu tidur. Datang ke perpus ngambil TTS lalu ngisi sok pintar, nyatanya saya enggak tahu tuh system TTS. Hahaha

Tapi entah ada angin dari mana, siang ini angin menyeret saya ke masa lalu. Saat peristiwa konyol terjadi. Yaps, peristiwa itu berlatar di perpustakaan.

BERAWAL DARI KEBISINGAN

Saat itu jam 1 siang, saya ke kampus dengan tergesa-gesa. Maklum tidur siang kebablasan, jadinya ya telat. Sesampainya di kampus, sebelum naik lift saya cek notif ponsel yang ramai banget dan ternyata kelas hari ini pindah jam karena dosen masih rapat jurusan. Ahh, benar-benar menyebalkan. Inginku mengumpat, tapi takut dosa. Jadinya pasrah saja.

Kondisi yang masih setengah mengantuk, membuat saya malas pulang ke kontrakan (saya ngontrak ya, enggak ngekos). Karena kalau siang hari suasana kontrakan sepi.

Akhirnya saya putuskan untuk pergi ke perpustakaan, apalagi di jam siang begini perpustakaan sudah sepi. Letak perpustakaan tidak jauh dari gedung jurusan saya, hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk berjalan kaki.

Terbukti, perpustakaan sangat sepi. Petugas perpus juga tinggal satu orang, yaitu ibu berkaca mata (belum tahu namanya) yang sedang sibuk dengan tumpukan buku. Selain itu, ada 2 mahasiswi yang sibuk mencari buku hingga bolak balik ditempat yang sama.

Karena tujuan saya untuk numpang tidur, saya mengambil asal buku di rak pertanian. “Ternak Cacing”. Baru sadar, dulu waktu SMA ketika temen-temen bertanya cita-cita saya. saya menjawab dengan pasti, “mau jadi peternak cacing dong.

Lalu saya memilih tempat duduk yang dekat dengan AC, biar bisa ngadem. Enggak ada orang di meja ini, langsung saja saya menenggelamkan kepala diatas buku yang saya buka acak. Membiarkan udara dingin menyelimuti saya, hingga membawa saya ke ruang mimpi. Yang sangat jauh. Hiyaaaa

Entah sudah berapa lama saya tidur, impuls pendengaran saya memaksa untuk nyimak kebisingan di sekitar saya. Menit pertama saya hanya kedip-kedip tidak jelas, masih ingin tidur karena kepala saya mendadak pusing. Efek dari posisi tidur kali ya?

Tapi kebisingan itu sangat mengganggu, saya mendongak. Daya pandang saya masih 5 watt, mencoba fokus dengan objek di depan saya. Tepat di depan saya, ada tumpukan buku yang super tebal, disamping kananya ada seseorang. Sibuk dengan rutinitas-menghafal (mungkin).

Saya kembali menenggelamkan kepala saya, kebisingan itu masih terjadi dan bertambah keras. Saya kembali mendongak. Ohh, orang tadi sedang berbincang dengan temanya (mungkin) karena terlihat akrab. Sepertinya yang dibicarakan mengenai organisasi (tidak bermaksud menguping ya, karena mereka yang salah kenapa ngomonya keras-keras).

Merasa tertanggu saya memulihkan ingatan dan tenaga. Melihat jam di dinding sebrang yang menandakan jam 3 sore. Oh God, ternyata saya sudah 2 jam tidur disini? Dan dia (mahasiswa yang berisik), sejak kapan ya disini?

Bodo amat, saya mmengembalikan buku dan bersiap pulang. Karena masih ada kelas nanti malam dan masih ada tugas yang belum saya selesaikan.

baca juga : cerita singkat tentang sastra dan tulisan

KEBISINGAN LAGI

Hari senin, selalu menjadi hari yang menyebalkan bagi saya. Setelah 2 hari libur, mendadak diusik oleh senin. Hari senin memang seperti momok menurut saya, apalagi jadwal kuliah yang sangat menggantung. Seperti hari itu, masuk kuliah jam 7.30 selesai jam 10.00, di sambung lagi masuk jam 12.30.

Saat itu, siang hari terasa 2 kali lebih panas dari pada biasanya. Berjalan menuju kontrakan hanya akan membuang waktu saja, belum lagi kalo ketiduran. Auto saja diusir dari kelas.

Seperti biasa saya menunggu di perpustakaan (karena kantin sangat ramai). Diperjalanan saya sudah memikirkan apa buku yang akan saya baca, lalu membuat jadwal aktivitas (intinya memanage waktu biar tidak ada yang terbengkalai antara ngampus, organisasi dan main-main).

Sampai di perpus bukanya membaca buku malah saya asik wifi-an, sroll-scroll instagram, story whatsapp, cek twitter. Hingga saya merasa ngantuk karena ruangan terlalu dingin efek dari AC (berusaha membuat alibi). Entah sejak kapan, saya sudah tidur dengan kepala miring. Saat itu, perpus lumayan ramai. Kursi-kursi hampir penuh dan sedikit berisik.

Hingga, saya mendengar kebisingan lagi. Terasa lebih keras, mengalahkan suara lain yang saya dengar sebelum ketiduran (angap saja memang ketiduran ya). Saya mendongak. Ternyata perpus sudah sepi, hanya ada dia-mahasiswa yang waktu itu. Dia sibuk dengan buku yang super tebal-menghafal. Karena tertarik aku curi-curi pandang. Sambil sesekali membaca buku yang aku bawa sendiri. Dia duduk di depanku, sangat mudah aku mengintip buku apa yang sedang di baca.

Ohh, ternyata. Baru beberapa menit saya menyadari kalau yang sedang di baca adalah buku TOEFL dan teman-temanya yang berbau bahasa inggris.

Saya bersikap bodo amat, ya karena dari kecil saya tidak menyukai bahasa inggris. Terbukti dari nilai bahasa inggris saya yang cuma seangka.

baca juga : apakah aku hanya pemimpi?

DI ORGANISASI

Sebenarnya peristiwa di perpus masih panjang, karena seringkali terjadi. Tapi ntar malah terlalu panjang tulisan ini hahahah. Jadinya saya loncat ke peristiwa yang tak kalah penting.

So, hari itu di salah satu organisasi yang saya ikuti mengadakan event dan saya ditunjuk sebagai sie kesekertarisan. Bagi yang belum tahu, sie kesekertarisan ini apa saya akan jelaskan. Sie kesekertarisan ini beda sama sekertaris, kalau sekertaris bagian yang menangani proposal kegiatan, surat undangam, surat delegasi dan surat-surat lainya, sedangkan sie kesekertarisan ini yang bertugas print out surat yang di buat sekertaris dan yang memegang absent peserta, delegasi, pengurus organisasi atau panitia.

Lanjut.

Saat itu, saya meneliti absent pengurus. Siapa saja yang datang, ijin, atau tanpa keterangan. Atau bahkan yang lupa absent.

Beberapa menit, ketika hampir pengurus pulang (delegasi dan peserta sudah pulang) saya menemukan beberapa pengurus yang belum absent padahal sudah datang. Karena saya belum hafal semua pengurus senior, saya bertanya kepada kakak tingkat mengenai nama seseorang. Kakak itu meneriaki seseorang yang sedang berada diatas motor dan bersiap pulang. Begitu dia mematikan mesin motornya saya bergegas lari hanya untuk TTD.

Betapa terkejutnya, ternyata dia adalah mahasiswa yang berisik di perpus. Sampai-sampai saya lupa memberikan pulpen. Astaga memalukan.

Maaf, dek. Tadi lupa. ” dia berucap dengan sopan. Saya hanya tersenyum canggung. Mengingat perilaku saya di perpus ketika dia datang, atau lebih dulu datang. Saya yang waktu itu terlihat tidak menyukainya, merasa terganggu dan terkadang secara terang-terangan menyuruhnya diam. Ahh, saya benar-benar maluuu.

Dia menyodorkan kertas dan pulpen, masih diatas motor dengan helm terkunci rapi, “nama kamu siapa, dek?” saya menjawab nama panggilan, padahal biasanya di sesi perkenalan saya menyebut nama lengkap, NIM, jurusan dan alamat. Tapi kali ini beda, saya benar-benar malu. Benget. Serius.

Hari itu, saya menyadari satu hal. Seburuk apapun perbuatan orang lain kepada kita, kita tidak harus membalasnya dengan keburukan pula. Bukankah benar, jika mata di balas dengan mata maka dunia akan buta?

Saya juga menyadari bahwa sebernarnya sejak saat itu saya tertarik dengan bahasa inggris, mulai membuka TOEFL,buku buku bahasa inggris atau mungkin belajar juga. Berawal dari  ketidaksukaan, ternyata membuat saya penasaran untuk mengikuti jajek dia. Well, sebenarnya saya mau berterima kasih. Karena kebisingan itu juga membisikan kepada saya bahwa keluar dari zona nyaman itu penting, juga belajar tentang hal yang sangat tidak disukai adalah tantangan yang harus di lewati.

Big thanks for you.

Continue reading ON LIBRARY